
Kondisi jembatan Dusun gilih Desa Seboro kecamtan Krejengan.28/10/2025(foto ifaktanews.co.id)
PROBOLINGGO,ifaktanews.co.id,- Baru empat bulan rampung, jembatan semi permanen di Dusun Gilih, Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Papan kayu lantai terlepas, baut pengikat tercerabut, dan struktur besi mulai menggantung di atas aliran sungai.
Jembatan senilai Rp1,1 miliar itu dibangun oleh penyedia asal luar daerah, CV Anya Mandiri Sukses, dengan masa pengerjaan 3 Maret hingga 16 Mei 2025. Anggarannya bersumber dari pos Biaya Tak Terduga (BTT) Bencana Alam APBD Kabupaten Probolinggo tahun 2025. Namun, kualitasnya kini dipertanyakan warga.
“Ini baru selesai sekitar empat bulan lalu, tapi bautnya banyak yang lepas. Kami mau memperbaiki sendiri, tapi tidak tahu caranya,” ujar Saifuddin, warga setempat, Selasa (28/10).
Pantauan di lapangan menunjukkan sedikitnya 60 baut pengikat balok kayu terlepas dari dudukannya. Sejumlah papan lantai juga copot dari struktur utama besi yang menjadi rangka jembatan. Kondisi itu membuat warga khawatir jembatan ambruk jika tak segera diperbaiki.
Tak hanya itu, bagian pagar sisi barat jembatan juga dirombak warga. Awalnya terlalu sempit dan membahayakan pengendara, terutama mobil yang harus menikung tajam di ujung jembatan.
“Itu sudah kami bongkar dan las sendiri karena banyak mobil nyenggol pagar. Harusnya yang merencanakan memperhitungkan kondisi lapangan,” kata Zubairi, warga lainnya.
Dari data yang dihimpun, proyek tersebut diawasi oleh PT Bakti Persada sebagai konsultan pengawas. Namun, warga menilai pengawasan selama pembangunan tak maksimal.
Menanggapi kondisi itu, Leo, perwakilan CV Anya Mandiri Sukses, mengakui adanya masalah pada sambungan baut jembatan. Ia mengklaim pihaknya tengah menyiapkan perbaikan dengan memasang “kuku macan” untuk memperkuat struktur lantai.
“Kami sedang proses pembuatan kuku macan untuk memperkuat baut lantai jembatan,” ujar Leo saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo belum memberikan tanggapan atas temuan kerusakan tersebut.
Kini, jembatan yang sejatinya menjadi penghubung vital warga antar dusun itu justru menjadi sumber kekhawatiran. Bagi warga Seboro, mereka hanya berharap satu hal: jembatan yang dibangun dengan uang rakyat, semestinya bisa bertahan lebih lama dari satu musim hujan.
