Bagikan

Probolinggo – ifaktanews.co.id,-Dari jalanan desa di pesisir utara Probolinggo, langkah kecil seorang remaja menanjak menuju panggung nasional. Eza Raditya Pratama 17 tahun, siswa SMA Negeri 1 Paiton, akan mewakili Jawa Timur di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII yang digelar di Jakarta dalam waktu dekat.

Bagi Radit—begitu ia disapa—kecepatan bukan sekadar urusan kaki dan gear. Ia tumbuh bersama kayuhan. Sejak bocah, sepeda menjadi kawan setia yang menuntunnya melewati sawah dan jalanan berbatu Desa Jabung Sisir, Kecamatan Paiton. Di antara panas laut dan debu jalan, kecintaannya pada olahraga balap sepeda mulai bersemi.

Putra pasangan Moch. Yasin dan Tilung itu kini bukan lagi sekadar pengayuh sepeda kampung. Namanya kian dikenal di lintasan balap. Sejumlah ajang nasional telah ia lakoni, dan tak jarang pulang membawa piala. Salah satu capaian terbesarnya adalah juara dua kejuaraan balap sepeda nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

“Dari kecil dia tidak bisa diam kalau lihat sepeda. Kadang sampai lupa waktu latihan,” cerita Yasin, ayahnya, ketika ditemui di rumah sederhana mereka di Jabung Sisir.

Kini Radit bergabung dengan Pusat Latihan Daerah (Puslatda) Jawa Timur, tempat para atlet muda ditempa disiplin dan ketahanan fisik. Di bawah bimbingan pelatih berpengalaman, ia menjalani latihan intensif saban hari—menyusuri rute panjang dengan kombinasi tanjakan dan sprint, menakar napas, dan mengasah kecepatan.

Menurut pelatih Puslatda Jatim, Radit termasuk salah satu pembalap muda yang menjanjikan. Ia punya teknik stabil dan daya tahan kuat, dua hal yang langka di usianya. “Radit itu tipe pekerja keras. Kalau jatuh, bangkitnya selalu lebih cepat dari sebelumnya,” ujar sang pelatih.

Bagi Radit, mewakili Jawa Timur di Popnas bukan hanya soal medali. Lebih dari itu, ia ingin membawa nama Probolinggo melesat di peta olahraga nasional. “Saya ingin tunjukkan, anak desa juga bisa bersaing di level nasional,” katanya dengan senyum malu-malu.

Popnas XVII di Jakarta nanti akan mempertemukan ratusan atlet muda dari seluruh provinsi. Di antara gemuruh roda dan teriakan penonton, Raditya akan kembali memegang kendali di atas sadel—mengadu nyali, tenaga, dan keyakinan.

Dari pesisir Paiton ke ibu kota, langkahnya mungkin masih ringan, tapi arah tujuannya sudah jelas: mimpi yang dikayuh dengan ketekunan.